Total Tayangan Halaman

Selasa, 20 Juli 2010

Teori Penciptaan Alam Semesta

Teori penciptaan alam semesta dikemukakan dalam berbagai pendapat. Adapun pendapat tentang teori penciptaan alam semesta antarlain teori kabut, teori planetesimal, teori bintang kembar, teori pasang surut, dan teori big bang.

1. Teori Kabut
Teori kabut disebut juga Teori nebula. Teori tersebut dikemukakan oleh Imamnanuel Kart dan Simon de Laplace. Menurut teori ini mula-mula ada sebuah nebula yang baur dan hampir bulat yang berotasi dengan kecepatan sangat lambat hingga mulai menyusut seperti gambar di bawah ini.

Akibatnya terbentuklah sebuah cakram datar bagian tengahnya. Penyusutan berlanjut dan terbentuk matahari di pusat cakram. Cakram berotasi lebih cepat sehingga bagian tepi-tepi cakram terlepas membentuk gelang-gelang bahan. Kemudian bahan dalam gelang-gelang memadat menjadi planet-planet yang berevolusi mengitari matahari. Seperti gambar di bawah ini.

Bumi kita terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu bersamaan dengan terbentuknya satu sistem tata surya yang dinamakan keluarga matahari. Satu yang dinamakan teori “teori Kabut” menceritakan kejadian tersebut dalam tiga tahap :
1. Matahari dan planet-planet lainnya masih berbentuk gas, kabut yang begitu pekat dan besar.
2. Kabut tersebut berputar dengan kuat, dimana pemadatan terjadi di pusat lingkaran yang kemudian membentuk matahari pada saat yang bersamaan matahari lainpun terbentuk menjadi massa yang lebih kecil dari matahari yang disebut sebagai planet, bergerak mengelilingi matahri.
3. Materi-materi tersebut tumbuh makin besar dan terus melakukan gerakan secara teratur mengelilingi matahari dalam satu orbit yang tetap dan membentuk susunan keluarga matahari.
Teori ini berhasil menjelaskan bahwa tata surya datar, yaitu orbit elips planet mengelilingi matahari hampir datar. Kelemahan teori Kabut disampaikan oleh James Clerk Maxwell dan Sir James Jeans yang menunjukkan bahwa massa bahan dalam gelang-gelang tidak cukup untuk menghasilkan tarikan gravitasi sehingga memadat menjadi planet.
F. R. Moulton pun menyatakan bahwa teori Kabut tidak memenuhi syarat bahwa yang memiliki momentum sudut paling besar haruslah planet bukan matahari. Teori Kabut menyebutkan bahwa matahari yang memiliki massa terbesar akan memiliki momentum sudut yang paling besar. .

2. Teori Planetesimal
Planetesimal dikemukakan oleh T. C Chamberlein dan F. R Moulton. Menurut teori ini, matahari sebelumnya telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang bayak di langit.
Suatu ketika bintang berpapasan dengan matahari dalam jarak yang dekat. Karena jarak yang dekat, tarikan gravitasi bintang yang lewat sebagian bahan dari matahari (mirip lidah raksasa) tertarik ke arah bintang tersebut terjadilah ledakan-ledakan yang dahsyat yang disebabkan olaeh gaya tarik-menarik antara matahari dan bintang yang mendekat. Seperti gambar di bawah ini.

Saat bintang menjauh dari matahari gaya gravitasi yang bekerja semakin melemah lidah raksasa itu sebagian jatuh ke matahari dan sebagian lagi terhambur menjadi gumpalan (membeku) atau Planetesimal dan tidak kembali ke matahari (bagian yang tidak kembali ke matahari membentuk gumpalan yang disebut planetesimal).
Setelah lama Planetesimal menyatu membentuk planet-planet melayang di angkasa dalam orbit. Dengan tumbukan dan tarikan gravitasi, planetesimal besar menyapu yang lebih kecil dan akhirnya menjadi planet.
Pada dasarnya, proses terjadinya planet-planet dan bumi, dimulai dari benda berbentuk gas yang bersuhu sangat panas. Karena proses waktu dan perputaran cepat, maka terjadilah pendinginan yang menyebabkan pemadatan (pada bagian luar).
Kelemahan teori ini adalah semestinya, gas-gas yang tertarik ke arah bintang tidak berputar mengelilingi matahari, tetapi lebih mungkin melayang bebas di angkasa.

3. Teori Bintang Kembar
Di jagad raya ini terdapat beberapa bintang kembar yang letaknya berdekatan. Antara satu dengan yang lainnya, di antara bintang kembar tersebut terdapat hubungan unik. Walaupun bintang yang satu bukan satelit bitang yang lain, namun dengan setia mengelilinginya. Ada beberapa bintang kembar antara lain: Alpha Centauri, dan Antares (rasi scorpio) dan Alde Baren (rasi taurus).
Di samping itu terdapat pula gerombolan bintang yang disebut cluster. Ada yang bentuknya memebuat seperti bola disebut Globular Cíluster. Ada pula yang bentuknya tidak beraturan yang disebut dengan Open ClustIer. Jika dilihat dengan mata telanjang tanpa peralatan, maka Culster ini seperti satu bintang yang sangat besar. Seperti gambar di bawah ini.

Namun, bila dilihat dengan menggunakan alat teropong, akan tampak sebagai ribuan bintang yang berukuran sangat kecil dan letaknya bergerombol. Teori ini muncul sekitar tahun 1930 dan kurang mempunyai pengaruh karena sulit untuk dibayangkan.
Teori ini dikemukakan oleh seoarang ahli astronomi R. A Lyttleton. Menurut teori ini, alam semesta berasal dari dua bintang yang hampir sama ukurannya dan saling berdekatan atau dalam arti lain galaksi berasal dari kombinasi bintang kembar. Seperti gambar di bawah ini.

Salah satu bintang meledak sehingga banyak material yang terlempar. Karena bintang yang tidak meledak mempunyai gaya gravitasi yang masih kuat, maka sebagian pecahan ledakan bintang tersebut mengelilingi bintang yang tidak meledak. Bintang yang tidak meledak itu adalah matahari, sedangakan pecahan bintang yang lain adalah planet-planet yang mengelilinginya
Salah satu dari si kembar ini diperkirakan lahir lebih dulu dari yang lainnya. Misalkan, sejak dahulu para ahli astrofisika telah memgasumsikan jika pembentukan bintang ganda terjadi secara simultan. Dengan demikikan, penemuan ini jadi uji coba baru atas teori model pembentukan bintang.
Kedua bintang kembar ini ditemukan pada Nebula Orion, yang berjarak 1500 tahun cahaya dari bumi. Bintang yang baru berumur 1 juta tahun itu masih merupakan bayi bintang, mengingat massa hidupnya akan mencapai usia 5 milyar tahun. Jika dibandingkan dengan umur manusia, bintang ini baru merupakan bayi yang berusia satu tahun.
Penemuan ini tentunya akan membawa para astronom untuk menguji kembali model pembentukan bintang yang sudah ada. Keberatan terhadap teori ini adalah kebanyakan bintang di dalam 25 tahun cahaya matahari, agak serupa dengan matahari dan sangat stabil.

4. Teori Pasang Surut Gas
Teori ini dapat dianalogikan dengan pasangn surut air laut akibat mendekatnya bulan ke bumi. Hanya saja menurut teori Jeans dan Jeffreys bagian yang terlepas tidak bisa surut kembali lagi ke kedudukan semula karena bagian yang pasang daya tarik adalah gas. Teori pasang surut gas pertama kali disampaikan oleh Buffon. Buffon menyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari materi matahari yang terlempar akibat bertubrukan dengan sebuah komet.
Teori Pasang Surut yang disampaikan buffon kemudian diperbaiki oleh Sir James Jeans dan Horald Jeffreys. Mereka berpendapat bahwa alam semesta terbentuk oleh efek pasang surut gas-gas matahari akibat gaya gravitasi bintang besar yang melintasi matahari. Gas-gas panas tersebut kemudian berubah menjadi bola-bola cair dan secara perlahan mendingin serta membentuk lapisan keras menjadi planet-planet dan satelit. Seperti gambar di bawah ini.

Pasang surut air laut yang sering kita lihat di bumi sangat kecil. Penyebabnya adalah kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak bulan ke bumi. Tetapi sebuah bintang yang bermassa hampir sama besar dengan matahari, maka akan terbentu semacam gunung-gunung gelombang rakasasa pada tubuh matahari. Yang disebabkan oleh gaya tarik yang disebabkan sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak dekat.
Gunung-gunung tersebut akan mencapai tinggi yang luar biasa dan membentuk semacam lidah pijar yang besar sekali, menjulur dari massa matahari tadi dan merentang kearah bintang besar itu.
Dalam lidah yang panas ini terjadi perapatan gas-gas dan akhirnya kolom-kolom ini akan pecah, lalu terpisah menjadi benda-benda sendiri, yaitu planet-planet. bintang besar yang menyebabkan penarikan pada bagian-bagian tubuh matahari, melanjutkan perjalanan di jagat raya, sehingga lambat laun akan hilang pengaruhnya terhadap planet-planet yang terbentuk tadi.
Planet-planet itu akan berputar mengelilingi matahari dan mengalami proses pendinginan. Proses pendinginan ini berjalan dengan lambat pada planet-planet kecil seperti bumi kita.
Selama pendinginan berlangsung, planet-planet itu masih mengelilingi matahari pada orbit berbentuk elips, sehingga besar kemungkinan pada suatu ketika mereka akan mendekati matahari dalam jarak yang pendek. Akibat kekuatan penarikan matahari . Maka akan terjadi pasang surut pada tubuh planet yang baru lahir itu.
Matahari akan menarik kolom-kolom materi dari planet-planet, sehingga lahirlah bulan (satelit) yang berputar mengelilingi planet. Peranan yang dipegang matahari dalam membentuk bulan-bulan ini pada prinsipnya sama dengan peranan bintang besar dalam membentuk planet-planet.

5. Teori Big Bang
Berdasarkan asal kata “Big Bang” berarti ledakan besar, dalam ilmu kosmologi Big Bang dinyatakan sebagai sebagai salah satu teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan perkembangan dan bentuk awal dari alam semesta. Teori ini bedasarkan jenis asumsi adanya massa sangat besar dan mempunyai massa jenis sangat besar. Seperti gambar di bawah ini.

Adanya reaksi inti menyebabkan massa tersebut meledak hebat. Massa tersebut kemudian mengembang dengan sangat cepat, menjuhi pusat ledakan. Dari berbagai teori yang dikemukakan para ahli, kebanyakan ilmuwan mendukung teori Big Bang, karena ledakan besar tersebut awal terciptnya alam semesta.
Ledakan ini melontarkan materi dalam jumlah sangat besar ke segala penjuru alam semesta, yang kemudian membentuk bintang, planet, debu kosmis, asteroid/meteor, energi, dan partikel lainnya di alam semesta. Penemuan ini menyatakan bahwa dari ledakan satu titik tunggal bervolume nol dan berkerapatan tak terhingga yang terjadi sekitar 14 milyar tahun lalu.
Ide sentral dari teori ini adalah bahwa teori relatitas umum dapat dapat dikombinasikan dengan hasil pemantauan dalam sekala besar pada pergerakan galaksi satu sama lain, dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta akan kembali atau terus. Konsekuensi alami dari teori Big Bang yaitu pada massa lampau alam semesta mempunyai suhu yang lebih tinggi dan kerapatan yang lebih tinggi.
Menurut teori Big Bang segala sesuatu berawal dari ledakan satu titik tunggal berkerapatan tak terhingga dan bervilome nol. Seiring dengan berjalannya waktu, ruang angkasa mengembang dan ruang yang memisahkan antara benda-benda langitpun mengembang.
Menyelidiki keadaan suatu Big Bang terjadi, mungkin tidak akan ada orang yang tahu, apa yang terjadi selama Big Bang? Memang kita tidak dapat mencari saksi yang melihat Big Bang secara langsung. Jadi untuk menjawabnya para astronom harus melihat bahwa alam semesta sekarang dan melihatnya kebelakang.
Para astronom juga dapat mengukur timbunan relatif dari setiap element dan isotop yang terbentuk selama awal Big Bang untuk memeperkirakan seberapa lama waktu yamg dibutuhkan untuk memperkirakan seberapa waktu yang dibutuhkan untuk membentuk atom-atom saat Big Bang berlansung.
Keadaan sebelum Big Bang, alam semesta memulai Big Bang saat waktu sama dengan nol detik. Tapi bagaimana sebelum waktu nol detil? dalam konteks teori Bing Bang. Belum ada satu teori ilmiahpun yang dapat menjelaskan keadaan ini.
Teori Big Bang memiliki keterbatasan selama selang waktu 10-43 detik pertama kejadian Big Bang setelah waktu nol. Tenggang waktu ini disebut waktu planck (masa puncak) di mana muncul dari mekanika kuantum.
Tanpa penjelasan secara detail, mekanika kuantum memprediksi apapun yang memiliki ukuran kecil sekali lebih tepat dibandingkan mekanika newton. Kita juga dapat memprediksi atau mengukur lintasan planet-planet atau bahkan bola baseball, namun kita hanya bisa menentukan kemungkinan dari sebuah elektron. Ketidak mampuan untuk menentukan atau mengukur lintasan elektron tersebut bukan karena kesalahan alat ukur keterbatasan mendasar alam.
Waktu planck adalah keterbatasan untuk mengukur waktu. Untuk waktu sejarah pembentukan alam semesta kurang dari 10-43 detik, adalah keterbatasan mekanika kuantum untuk memprediksi atau mengukur kondisi semacam itu teori Big Bang yang kita ketahui saat ini adalah setelah waktu 10-43 detik itu.

Saat itu alam semesta memiliki kerapatan /densitas 1096 kali dari kerapatan air dan diperkirakan memiliki temperatur 1032 kelvin. Sementara kita mulai memiliki keadaan sangat panas. Mulai saat itulah alam semesta memulai pengembangan Big Bang. Apa yang terjadi saat nol detik sampai 10-43? Tidak akan ada yang mengetahui kecuali tuhan semesta alam yaitu Allah SWT..

Tahap Penciptaan Alam Semesta

tahapan dalam penciptaan alam semesta dari mulai pertama sampai sperti sekarang ini. Seperti firman Allah SWT dalm surat Q.S. An-nazi’at ayat 27-33
أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا (29) وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30) أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (32) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (33)
“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya (27) Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya (28) dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang (29) Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (30) Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya (31) Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh (32) (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu (33)” (Q.S. An-Nazi’at: 27-33).


Pembentukan alam semesta dalam enam masa, sebagaimana disebutkan Al-Qur’an, sering menimbulkan permasalahan. Sebab, enam masa tersebut ditafsirkan berbeda-beda, mulai dari enam hari, enam periode, hingga enam tahapan. Oleh karena itu, pembahasan berikut mencoba menjelaskan maksud enam masa tersebut dari sudut pandang keilmuan, dengan mengacu pada beberapa ayat Al-Qur’an.
Dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan enam masa, Surat An-Nazi’at ayat 27-33 di atas tampaknya dapat menjelaskan tahapan enam masa secara kronologis. Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayatnya, sehingga kira-kira dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Masa I (ayat 27): penciptaan langit pertama kali
أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا
“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya”

Pada Masa I, alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”Big Bang”, kira-kira 13.7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah gelombang mikrokosmik di angkasa dan juga dari meteorit.
Awan debu (dukhan) yang terbentuk dari ledakan tersebut terdiri dari hidrogen. Hidrogen adalah unsur pertama yang terbentuk ketika dukhan berkondensasi sambil berputar dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, terbentuklah helium dari reaksi inti sebagian atom hidrogen.
Sebagian hidrogen yang lain berubah menjadi energi berupa pancaran sinar infra-red. Selanjutnya, angin Bintang menyembur dari kedua kutub dukhan, menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, dukhan yang tersisa berupa piringan, yang kemudian membentuk galaksi bintang-bintang dan gas terbentuk dan mengisi bagian dalam galaksi, menghasilkan struktur filamen (lembaran) dan void (rongga). Jadi, alam semesta yang kita kenal sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang kosong dan bagian yang terisi.


b. Masa II (ayat 28): pengembangan dan penyempurnaan
رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا
“Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya”

Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” dianalogikan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi.
Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dimana kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauh. Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan Big Bang.
Jadi, pada dasarnya Big Bang bukanlah ledakan dalam ruang, melainkan proses pengembangan alam semesta. Dengan menggunakan perhitungan efek doppler sederhana, dapat diperkirakan berapa lama alam ini telah mengembang, yaitu sekitar 13.7 milyar tahun. Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses yang terus berlangsung. Misalnya kelahiran dan kematian Bintang yang terus terjadi. Alam semesta ini dapat terus mengembang, atau kemungkinan lainnya akan mengerut.


c. Masa III (ayat 29): pembentukan tata surya termasuk bumi
وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا
“Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang”

Surat An-Nazi’at ayat 29 menyebutkan bahwa Allah SWT. menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya diperkirakan seperti pembentukan Bintang yang relatif kecil, kira-kira sebesar orbit neptunus. Prosesnya sama seperti pembentukan galaksi seperti di atas, hanya ukurannya lebih kecil.
Seperti halnya matahari, sumber panas dan semua unsur yang ada di bumi berasal dari reaksi nuklir dalam inti besinya. Lain halnya dengan bulan. Bulan tidak mempunyai inti besi. Unsur kimianyapun mirip dengan kerak bumi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, disimpulkan bahwa bulan adalah bagian bumi yang terlontar ketika bumi masih lunak.
Lontaran ini terjadi karena bumi bertumbukan dengan suatu benda angkasa yang berukuran sangat besar (sekitar 1/3 ukuran Bumi). Jadi, unsur-unsur di bulan berasal dari bumi, bukan akibat reaksi nuklir pada bulan itu sendiri.

d. Masa IV (ayat 30): awal mula daratan di bumi
وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”
Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan permukaan bumi. Masa III hingga Masa IV ini juga bersesuaian dengan Surat Fushshilat ayat 9
قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam.” (Q.S. fushshilat ; 9)


e. Masa V (ayat 31): pengiriman air ke Bumi melalui komet
أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا
“Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh- tumbuhannya”

Dari ayat 31 di atas, dapat diartikan bahwa di bumi belum terdapat air ketika mula-mula terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan evolusi Bumi dari tidak ada air menjadi ada air.

Jadi, dari mana datangnya air? Air diperkirakan berasal dari komet yang menumbuk bumi ketika atmosfer bumi masih sangat tipis. Unsur hidrogen yang dibawa komet kemudian bereaksi dengan unsur-unsur di bumi dan membentuk uap air. Uap air ini kemudian turun sebagai hujan yang pertama. Bukti bahwa air berasal dari komet, adalah rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut, yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya.
Karena semua kehidupan berasal dari air, maka setelah air terbentuk, kehidupan pertama berupa tumbuhan bersel satu pun mulai muncul di dalam air.

f. Masa VI (ayat 32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia
وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا- مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu “

Dalam ayat 32 di atas, disebutkan ”…gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan air dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng.


Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 di atas. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi.
Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi:
وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ
“Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.”
(Q.S fushshilat: 10)

Anggota Alam Semesta

B. Anggota Alam Semesta
Di alam semesta ataupun tatasurya terdapat beberapa benda langit yang beredar di dalamnya diantaranya bulan, bintang, matahari, asteroid, meteoroid, planet dan komet.
Benda-benda tersebut beredar sejak alam semesta ini tercipta, berikut penjelasanya secara singkat.

1. Bulan
Bulan adalah satu-satunya satelit alami bumi, dan merupakan satelit alami terbesar ke-5 di tata surya. Bulan tidak mempunyai sumber cahaya sendiri dan cahaya Bulan sebenarnya berasal dari pantulan cahaya matahari.
Bulan berada dalam orbit sinkron dengan bumi, hal ini menyebabkan hanya satu sisi permukaan bulan saja yang dapat diamati dari bumi. Orbit sinkron menyebabkan kala rotasi sama dengan kala revolusinya. Di bulan tidak terdapat udara ataupun air.

Banyak kawah di permukaan bulan yang disebabkan oleh hantaman komet atau asteroid. Ketiadaan udara dan air di bulan menyebabkan tidak adanya pengikisan yang menyebabkan banyak kawah di bulan yang berusia jutaan tahun dan masih utuh. Di antara kawah terbesar adalah Clavius dengan diameter 230 kilometer dan sedalam 3,6 kilometer. Ketidakadaan udara juga menyebabkan tidak ada bunyi dapat terdengar di bulan.

2. Bintang
Bintang adalah salah satu anggota alam semesta. Bintang merupakan benda langit yang bercahaya. Bintang digolongkan menjadi 2 macam. Yaitu bintang semu dan bintang nyata.
Bintang semu adalah bintang yang bercahaya, namun cahaya yang dihasilkan merupakan pantulan dari benda bercahaya yang lain. Sedangkan bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri, jadi bintang ini tampak lebih terang daripada bintang semu.

3. Asteroid
Sistem tata surya dan alam semesta tidak terdiri dari pada planet-planet dan satelit-satelit saja. Di sana juga banyak terdapat jasad-jasad kecil; asteroid-asteroid, komet-komet; dan juga sabuk-sabuk yang diseeebut meteroid-meteoroid. Yang membedakannya adalah dari segi jarak kejauhan dari matahari dan komposisinya.
Asteroid-asteroid terdiri dari pada batuan Asteroid, pernah disebut sebagai planet Minor atau Planetoid, adalah benda berukuran lebih kecil dari pada planet, tetapi lebih besar daripada meteoroid, umumnya terdapat di bagian dalam tata surya.
4. Meteoroid
Meteoroid adalah batu meteor yang berhasil mencapai permukaan bumi. Disebut juga meteor setelah menembus atmosfir bumi tetapi belum mencapai permukaan bumi. Merupakan asteroid kecil yang ketika memasuki atmosfir bumi, gesekan udara menyebabkan meteor menjadi panas dan menimbulkan cahaya sehingga kadang kala disebut bintang jatuh. Di Indonesia, meteoroid dapat ditemukan di museum geologi Bandung.
Meteoroid adalah bahan baku keris yang disukai para empu. Keris yang mendapat campuran meteoroid biasanya ringan tetapi sangat kuat karena mengandung logam langka, seperti titanium.




5. Planet
Planet adalah benda langit yang memiliki ciri-ciri berikut:
• Mengorbit mengelilingi bintang atau sisa-sisa bintang;
• mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi tersendiri agar dapat mengatasi tekanan rigid body sehingga benda angkasa tersebut mempunyai bentuk kesetimbangan hidrostatik (bentuk hampir bulat);
• tidak terlalu besar hingga dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap deuterium di intinya; dan,
• telah "membersihkan lingkungan" (clearing the neighborhood; mengosongkan orbit agar tidak ditempati benda-benda angkasa berukuran cukup besar lainnya selain satelitnya sendiri) di daerah sekitar orbitnya
Berdasarkan definisi di atas, maka dalam sistem tata surya terdapat delapan planet. Hingga 24 Agustus 2006, sebelum Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union = IAU) mengumumkan perubahan pada definisi "planet" sehingga seperti yang tersebut di atas, terdapat sembilan planet termasuk Pluto. Bahkan benda langit yang belakangan juga ditemukan sempat dianggap sebagai planet baru, seperti: Ceres, Sedna, Orcus, Xena, Quaoar, UB 313. Pluto, Ceres dan UB 313 kini berubah statusnya menjadi "planet kerdil/katai."
Planet diambil dari kata dalam bahasa Yunani Asteres Planetai yang artinya Bintang Pengelana. Dinamakan demikian karena berbeda dengan bintang biasa, planet dari waktu ke waktu terlihat berkelana (berpindah-pindah) dari rasi bintang yang satu ke rasi bintang yang lain. Perpindahan ini (pada masa sekarang) dapat dipahami karena planet beredar mengelilingi matahari.
Namun pada zaman Yunani Kuno yang belum mengenal konsep heliosentris, planet dianggap sebagai representasi dewa di langit. Pada saat itu yang dimaksud dengan planet adalah tujuh benda langit: Matahar, Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus. Astronomi modern menghapus Matahari dan Bulan dari daftar karena tidak sesuai definisi yang berlaku sekarang.
Sebelumnya, planet-planet anggota galaksi Bimasakti ada 9, Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter/Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Namun, tanggal 26 Agustus 2006, para ilmuwan sepakat untuk mengeluarkan Pluto dari galaksi Bimasakti sehingga jumlah planet pada galaksi Bimasakti jumlahnya ada 8. Yaitu: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter/Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus. Hingga pada akhirnya definisi planet berubah menjadi anggota tata surya yang beredar pada garis edarnya masing-masing.
6. Komet
Komet adalah benda angkasa yang mirip asteroid, tetapi hampir seluruhnya terbentuk dari gas (karbon dioksida, metana, air) dan debu yang membeku. Komet memiliki orbit atau lintasan yang berbentuk elips, lebih lonjong dan panjang daripada orbit planet. Komet yang cerah pastinya menarik perhatian ramai.
Ketika komet menghampiri bagian dalam Tata Surya, radiasi dari Matahari menyebabkan lapisan es terluarnya menguap. Arus debu dan gas yang dihasilkan membentuk suatu atmosfer yang besar tetapi sangat tipis di sekeliling komet, disebut coma. Akibat tekanan radiasi matahari dan angin matahari pada coma ini, terbentuklah ekor raksasa yang menjauhi matahari.
Coma dan ekor komet membalikkan cahaya matahari dan bisa dilihat dari bumi jika komet itu cukup dekat. Ekor komet berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Semakin dekat komet tersebut dengan matahari, semakin panjanglah ekornya. Ada juga komet yang tidak berekor. Komet mempunyai orbit berbentuk elips. Perhatikan ia mempunyai dua ekor
Komet bergerak mengelilingi matahari berkali-kali, tetapi peredarannya memakan waktu yang lama. Komet dibedakankan menurut rentangan waktu orbitnya. Rentangan waktu pendek adalah kurang dari 200 tahun dan rentangan waktu yang panjang adalah lebih dari 200 tahun. Secara umumnya bentuk orbit komet adalah elips. coma adalah daerah kabut yang di sekeliling inti komet.

Astronomi

Astronomi, yang secara etimologi berarti ilmu bintang (dari Yunani: άστρο, + νόμος), adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.
Selama sebagian abad ke-20, astronomi dianggap terpilah menjadi astrometri, mekanika langit, dan astrofisika. Status tinggi sekarang yang dimiliki astrofisika bisa tercermin dalam nama jurusan universitas dan institut yang dilibatkan di penelitian astronomis: yang paling tua adalah tanpa kecuali bagian 'Astronomi' dan institut, yang paling baru cenderung memasukkan astrofisika di nama mereka, kadang-kadang mengeluarkan kata astronomi, untuk menekankan sifat penelitiannya. Selanjutnya, penelitian astrofisika, secara khususnya astrofisika teoretis, bisa dilakukan oleh orang yang berlatar belakang ilmu fisika atau matematika daripada astronomi.


Astronomi Bulan: kawah besar ini adalah Daedalus, yang dipotret kru Apollo 11 selagi mereka mengedari Bulan pada 1969. Ditemukan di tengah sisi gelap bulan Bumi, garis tengahnya sekitar 93 km
Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana amatir masih memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan pengamatan fenomena sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi, ilmusemu yang mengasumsikan bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak benda-benda astronomis di langit. Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua bidang ini sangat berbeda; astronom menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrolog tidak.

Penciptaan Alam Semesta


alam semesta itu dijelaskan oleh ahli astrofisika dengan fenomena yang dapat diterima yang lebih dikenal dengan sebutan Big Bang. Hal ini didukung oleh data penelitian dan percobaan yang dikumpulkan oleh ahli ilmu falak dan ahli astrofisika selama beberapa dekade. Menurut teori ini kesuluruhan alam semesta pada awalnya adalah satu masa yang besar ( kabut angkasa utama). Kemudian terjadi Big Bang (pemisahan sekundaer) Yang menimbulkan terbentuknya galaksi.
Galaksi kemudian terbagi dalam bentuk bintang-bintang, palnet-planet, matahari, bulan, dan sebagainya asal muasal dari alam semesta memang unik dan kemungkinan terjadi oleh kesempatan adalah nol. Al-Qur’an menerangkan sesuai dengan asal muasal alam semesta.



أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya adalh satu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya dan kami jadikan daari air sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga berima? (Q.S. Al-Anbiyaa: 30)
Kesamaan kongruen antara ayat Al-Qur’an dan Big Bang memang tidak bisa terelakan.
Sumber:
Keajaiban Al-Qur’an Dalam Telaah Sains Modern, Dr. Zakir Naik dan Dr. Gary Miler. Media Ilmu: 55-56

Pengertian Jagat Raya


1.Yang disebut jagat raya, alam semesta atau antariksa yaitu ruangan yang meluas ke segaala arah, tidak terhingga, tetapi ada batas-batasnya yang belum dapat diketahui.
2.Jagat raya diduga bentuknya melengkung dan dalam keadaan memuai.
3.Jagat rayaa terdiri atas galaksi-galaksi atau sistem-sistem bintang yang jumlahnya ribuan. Salah satu di antaranya adalah Galaksi Bima Sakti.
4. Galaksi-galaksi terdiri atas benda-benda langit yang ada, yang membentuk sistem bintang yang kecil-kecil. Salah satu anggota tata surya adalah planet Bumi
Tidak diketahui bahwa dalam antariksa atau jagat raya terdapat ribuan galaksi-galaksi lain yang merupakan kumpulan bintang-bintang, dan salah satu di antaranya yaitu Jalan Susu atau Kali Seruyu atau Bima Sakti. Jelaslah, bahwa susunan atau isi jagat raya adalah kabut-kabut ekstra galaksi.
Sedang bintang-bintang atau benda langit hanyalah kelompok kabut ini jagat raya adalah ruangan maha luas, yang tak dapat diketahui atau dibayangkan luasnya. Namun demikian, menurut menurut para ahli berdasarkan penelitian mereka dapat menyatakan bahwa ruangan jagat raya ini luasnya ada batas-batas juga, bentuknya melengkung dan dalam keadaan memuai.
Diperkirakan bahwa jarak anatara galaksi dengan galaksi yang lain rata-rata lebiih dari satu juta tahun cahaya. Jika dimisalkan kabut-kabut itu digambarkan sebagai lingkaran-lingkaran dengan garis tengah 1 cm, maka jarak kabut yang satu dengan kabut yang lain dapat mencapai 10 cm, sedang ruang-ruang di antaranya kosong

Sumber:
Georgafi kelas X, K. Wirdiyatmoko, Erlangga: 35