Total Tayangan Halaman

Selasa, 20 Juli 2010

Teori Penciptaan Alam Semesta

Teori penciptaan alam semesta dikemukakan dalam berbagai pendapat. Adapun pendapat tentang teori penciptaan alam semesta antarlain teori kabut, teori planetesimal, teori bintang kembar, teori pasang surut, dan teori big bang.

1. Teori Kabut
Teori kabut disebut juga Teori nebula. Teori tersebut dikemukakan oleh Imamnanuel Kart dan Simon de Laplace. Menurut teori ini mula-mula ada sebuah nebula yang baur dan hampir bulat yang berotasi dengan kecepatan sangat lambat hingga mulai menyusut seperti gambar di bawah ini.

Akibatnya terbentuklah sebuah cakram datar bagian tengahnya. Penyusutan berlanjut dan terbentuk matahari di pusat cakram. Cakram berotasi lebih cepat sehingga bagian tepi-tepi cakram terlepas membentuk gelang-gelang bahan. Kemudian bahan dalam gelang-gelang memadat menjadi planet-planet yang berevolusi mengitari matahari. Seperti gambar di bawah ini.

Bumi kita terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu bersamaan dengan terbentuknya satu sistem tata surya yang dinamakan keluarga matahari. Satu yang dinamakan teori “teori Kabut” menceritakan kejadian tersebut dalam tiga tahap :
1. Matahari dan planet-planet lainnya masih berbentuk gas, kabut yang begitu pekat dan besar.
2. Kabut tersebut berputar dengan kuat, dimana pemadatan terjadi di pusat lingkaran yang kemudian membentuk matahari pada saat yang bersamaan matahari lainpun terbentuk menjadi massa yang lebih kecil dari matahari yang disebut sebagai planet, bergerak mengelilingi matahri.
3. Materi-materi tersebut tumbuh makin besar dan terus melakukan gerakan secara teratur mengelilingi matahari dalam satu orbit yang tetap dan membentuk susunan keluarga matahari.
Teori ini berhasil menjelaskan bahwa tata surya datar, yaitu orbit elips planet mengelilingi matahari hampir datar. Kelemahan teori Kabut disampaikan oleh James Clerk Maxwell dan Sir James Jeans yang menunjukkan bahwa massa bahan dalam gelang-gelang tidak cukup untuk menghasilkan tarikan gravitasi sehingga memadat menjadi planet.
F. R. Moulton pun menyatakan bahwa teori Kabut tidak memenuhi syarat bahwa yang memiliki momentum sudut paling besar haruslah planet bukan matahari. Teori Kabut menyebutkan bahwa matahari yang memiliki massa terbesar akan memiliki momentum sudut yang paling besar. .

2. Teori Planetesimal
Planetesimal dikemukakan oleh T. C Chamberlein dan F. R Moulton. Menurut teori ini, matahari sebelumnya telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang bayak di langit.
Suatu ketika bintang berpapasan dengan matahari dalam jarak yang dekat. Karena jarak yang dekat, tarikan gravitasi bintang yang lewat sebagian bahan dari matahari (mirip lidah raksasa) tertarik ke arah bintang tersebut terjadilah ledakan-ledakan yang dahsyat yang disebabkan olaeh gaya tarik-menarik antara matahari dan bintang yang mendekat. Seperti gambar di bawah ini.

Saat bintang menjauh dari matahari gaya gravitasi yang bekerja semakin melemah lidah raksasa itu sebagian jatuh ke matahari dan sebagian lagi terhambur menjadi gumpalan (membeku) atau Planetesimal dan tidak kembali ke matahari (bagian yang tidak kembali ke matahari membentuk gumpalan yang disebut planetesimal).
Setelah lama Planetesimal menyatu membentuk planet-planet melayang di angkasa dalam orbit. Dengan tumbukan dan tarikan gravitasi, planetesimal besar menyapu yang lebih kecil dan akhirnya menjadi planet.
Pada dasarnya, proses terjadinya planet-planet dan bumi, dimulai dari benda berbentuk gas yang bersuhu sangat panas. Karena proses waktu dan perputaran cepat, maka terjadilah pendinginan yang menyebabkan pemadatan (pada bagian luar).
Kelemahan teori ini adalah semestinya, gas-gas yang tertarik ke arah bintang tidak berputar mengelilingi matahari, tetapi lebih mungkin melayang bebas di angkasa.

3. Teori Bintang Kembar
Di jagad raya ini terdapat beberapa bintang kembar yang letaknya berdekatan. Antara satu dengan yang lainnya, di antara bintang kembar tersebut terdapat hubungan unik. Walaupun bintang yang satu bukan satelit bitang yang lain, namun dengan setia mengelilinginya. Ada beberapa bintang kembar antara lain: Alpha Centauri, dan Antares (rasi scorpio) dan Alde Baren (rasi taurus).
Di samping itu terdapat pula gerombolan bintang yang disebut cluster. Ada yang bentuknya memebuat seperti bola disebut Globular CĂ­luster. Ada pula yang bentuknya tidak beraturan yang disebut dengan Open ClustIer. Jika dilihat dengan mata telanjang tanpa peralatan, maka Culster ini seperti satu bintang yang sangat besar. Seperti gambar di bawah ini.

Namun, bila dilihat dengan menggunakan alat teropong, akan tampak sebagai ribuan bintang yang berukuran sangat kecil dan letaknya bergerombol. Teori ini muncul sekitar tahun 1930 dan kurang mempunyai pengaruh karena sulit untuk dibayangkan.
Teori ini dikemukakan oleh seoarang ahli astronomi R. A Lyttleton. Menurut teori ini, alam semesta berasal dari dua bintang yang hampir sama ukurannya dan saling berdekatan atau dalam arti lain galaksi berasal dari kombinasi bintang kembar. Seperti gambar di bawah ini.

Salah satu bintang meledak sehingga banyak material yang terlempar. Karena bintang yang tidak meledak mempunyai gaya gravitasi yang masih kuat, maka sebagian pecahan ledakan bintang tersebut mengelilingi bintang yang tidak meledak. Bintang yang tidak meledak itu adalah matahari, sedangakan pecahan bintang yang lain adalah planet-planet yang mengelilinginya
Salah satu dari si kembar ini diperkirakan lahir lebih dulu dari yang lainnya. Misalkan, sejak dahulu para ahli astrofisika telah memgasumsikan jika pembentukan bintang ganda terjadi secara simultan. Dengan demikikan, penemuan ini jadi uji coba baru atas teori model pembentukan bintang.
Kedua bintang kembar ini ditemukan pada Nebula Orion, yang berjarak 1500 tahun cahaya dari bumi. Bintang yang baru berumur 1 juta tahun itu masih merupakan bayi bintang, mengingat massa hidupnya akan mencapai usia 5 milyar tahun. Jika dibandingkan dengan umur manusia, bintang ini baru merupakan bayi yang berusia satu tahun.
Penemuan ini tentunya akan membawa para astronom untuk menguji kembali model pembentukan bintang yang sudah ada. Keberatan terhadap teori ini adalah kebanyakan bintang di dalam 25 tahun cahaya matahari, agak serupa dengan matahari dan sangat stabil.

4. Teori Pasang Surut Gas
Teori ini dapat dianalogikan dengan pasangn surut air laut akibat mendekatnya bulan ke bumi. Hanya saja menurut teori Jeans dan Jeffreys bagian yang terlepas tidak bisa surut kembali lagi ke kedudukan semula karena bagian yang pasang daya tarik adalah gas. Teori pasang surut gas pertama kali disampaikan oleh Buffon. Buffon menyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari materi matahari yang terlempar akibat bertubrukan dengan sebuah komet.
Teori Pasang Surut yang disampaikan buffon kemudian diperbaiki oleh Sir James Jeans dan Horald Jeffreys. Mereka berpendapat bahwa alam semesta terbentuk oleh efek pasang surut gas-gas matahari akibat gaya gravitasi bintang besar yang melintasi matahari. Gas-gas panas tersebut kemudian berubah menjadi bola-bola cair dan secara perlahan mendingin serta membentuk lapisan keras menjadi planet-planet dan satelit. Seperti gambar di bawah ini.

Pasang surut air laut yang sering kita lihat di bumi sangat kecil. Penyebabnya adalah kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak bulan ke bumi. Tetapi sebuah bintang yang bermassa hampir sama besar dengan matahari, maka akan terbentu semacam gunung-gunung gelombang rakasasa pada tubuh matahari. Yang disebabkan oleh gaya tarik yang disebabkan sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak dekat.
Gunung-gunung tersebut akan mencapai tinggi yang luar biasa dan membentuk semacam lidah pijar yang besar sekali, menjulur dari massa matahari tadi dan merentang kearah bintang besar itu.
Dalam lidah yang panas ini terjadi perapatan gas-gas dan akhirnya kolom-kolom ini akan pecah, lalu terpisah menjadi benda-benda sendiri, yaitu planet-planet. bintang besar yang menyebabkan penarikan pada bagian-bagian tubuh matahari, melanjutkan perjalanan di jagat raya, sehingga lambat laun akan hilang pengaruhnya terhadap planet-planet yang terbentuk tadi.
Planet-planet itu akan berputar mengelilingi matahari dan mengalami proses pendinginan. Proses pendinginan ini berjalan dengan lambat pada planet-planet kecil seperti bumi kita.
Selama pendinginan berlangsung, planet-planet itu masih mengelilingi matahari pada orbit berbentuk elips, sehingga besar kemungkinan pada suatu ketika mereka akan mendekati matahari dalam jarak yang pendek. Akibat kekuatan penarikan matahari . Maka akan terjadi pasang surut pada tubuh planet yang baru lahir itu.
Matahari akan menarik kolom-kolom materi dari planet-planet, sehingga lahirlah bulan (satelit) yang berputar mengelilingi planet. Peranan yang dipegang matahari dalam membentuk bulan-bulan ini pada prinsipnya sama dengan peranan bintang besar dalam membentuk planet-planet.

5. Teori Big Bang
Berdasarkan asal kata “Big Bang” berarti ledakan besar, dalam ilmu kosmologi Big Bang dinyatakan sebagai sebagai salah satu teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan perkembangan dan bentuk awal dari alam semesta. Teori ini bedasarkan jenis asumsi adanya massa sangat besar dan mempunyai massa jenis sangat besar. Seperti gambar di bawah ini.

Adanya reaksi inti menyebabkan massa tersebut meledak hebat. Massa tersebut kemudian mengembang dengan sangat cepat, menjuhi pusat ledakan. Dari berbagai teori yang dikemukakan para ahli, kebanyakan ilmuwan mendukung teori Big Bang, karena ledakan besar tersebut awal terciptnya alam semesta.
Ledakan ini melontarkan materi dalam jumlah sangat besar ke segala penjuru alam semesta, yang kemudian membentuk bintang, planet, debu kosmis, asteroid/meteor, energi, dan partikel lainnya di alam semesta. Penemuan ini menyatakan bahwa dari ledakan satu titik tunggal bervolume nol dan berkerapatan tak terhingga yang terjadi sekitar 14 milyar tahun lalu.
Ide sentral dari teori ini adalah bahwa teori relatitas umum dapat dapat dikombinasikan dengan hasil pemantauan dalam sekala besar pada pergerakan galaksi satu sama lain, dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta akan kembali atau terus. Konsekuensi alami dari teori Big Bang yaitu pada massa lampau alam semesta mempunyai suhu yang lebih tinggi dan kerapatan yang lebih tinggi.
Menurut teori Big Bang segala sesuatu berawal dari ledakan satu titik tunggal berkerapatan tak terhingga dan bervilome nol. Seiring dengan berjalannya waktu, ruang angkasa mengembang dan ruang yang memisahkan antara benda-benda langitpun mengembang.
Menyelidiki keadaan suatu Big Bang terjadi, mungkin tidak akan ada orang yang tahu, apa yang terjadi selama Big Bang? Memang kita tidak dapat mencari saksi yang melihat Big Bang secara langsung. Jadi untuk menjawabnya para astronom harus melihat bahwa alam semesta sekarang dan melihatnya kebelakang.
Para astronom juga dapat mengukur timbunan relatif dari setiap element dan isotop yang terbentuk selama awal Big Bang untuk memeperkirakan seberapa lama waktu yamg dibutuhkan untuk memperkirakan seberapa waktu yang dibutuhkan untuk membentuk atom-atom saat Big Bang berlansung.
Keadaan sebelum Big Bang, alam semesta memulai Big Bang saat waktu sama dengan nol detik. Tapi bagaimana sebelum waktu nol detil? dalam konteks teori Bing Bang. Belum ada satu teori ilmiahpun yang dapat menjelaskan keadaan ini.
Teori Big Bang memiliki keterbatasan selama selang waktu 10-43 detik pertama kejadian Big Bang setelah waktu nol. Tenggang waktu ini disebut waktu planck (masa puncak) di mana muncul dari mekanika kuantum.
Tanpa penjelasan secara detail, mekanika kuantum memprediksi apapun yang memiliki ukuran kecil sekali lebih tepat dibandingkan mekanika newton. Kita juga dapat memprediksi atau mengukur lintasan planet-planet atau bahkan bola baseball, namun kita hanya bisa menentukan kemungkinan dari sebuah elektron. Ketidak mampuan untuk menentukan atau mengukur lintasan elektron tersebut bukan karena kesalahan alat ukur keterbatasan mendasar alam.
Waktu planck adalah keterbatasan untuk mengukur waktu. Untuk waktu sejarah pembentukan alam semesta kurang dari 10-43 detik, adalah keterbatasan mekanika kuantum untuk memprediksi atau mengukur kondisi semacam itu teori Big Bang yang kita ketahui saat ini adalah setelah waktu 10-43 detik itu.

Saat itu alam semesta memiliki kerapatan /densitas 1096 kali dari kerapatan air dan diperkirakan memiliki temperatur 1032 kelvin. Sementara kita mulai memiliki keadaan sangat panas. Mulai saat itulah alam semesta memulai pengembangan Big Bang. Apa yang terjadi saat nol detik sampai 10-43? Tidak akan ada yang mengetahui kecuali tuhan semesta alam yaitu Allah SWT..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar